Share

Cerita Film Warkop DKI

Empat Puluh Tiga tahun semenjak kelahirannya, lawakan group komedi lawas ini masih ampuh bikin kita tergelitik. Di layar kaca, kehadirannya kerap menghibur keluarga Indonesia pada saat Lebaran atau liburan hari besar lainnya. Soalnya film-film Warkop DKI benar-benar nggak lekang dimakan zaman.

Coba kalau ditanya, siapa yang nggak kenal Warkop di Indonesia? Yang mana banyolan-banyolan cerdasnya acap menginspirasi anak-anak Stand Up Comedy. Kayak namanya, materi-materi banyolan yang dimunculkan trio ini nggak ubahnya celetukan, candaan, serta ledek-ledekan spontan di sela-sela obrolan santai beberapa teman akrab di sebuah warung kopi. Sambil melepas lelah, dengan ditemani secangkir kopi hangat serta makanan ringan lainnya segala persoalan dibahas kadang bahkan tajam dikritisi,  lalu diketawain bareng-bareng.

Warung Kopi Prambors. Itu namanya sebelum berubah jadi Warkop DKI atau kerap disingkat Warkop doang. Polah kelompok ini dimulai dari pertemanan beberapa mahasiswa Universitas Indonesia, Kasino, Dono, Nanu dan Rudi Badil. Selain sekampus, empat sekawan yang doyan bercanda itu juga tergabung dengan pecinta alam universitasnya, MAPALA UI. Pada saat kemping bareng lah, embrio lawakan ala Warkop mulai muncul.
Pola banyolan ini kadang terbawa-bawa saat beberapa dari mereka siaran di salah satu radio yang mulai menanjak kala itu, Prambors Rasisonia. Dari situ timbul ide untuk membuat acara baru untuk hiburan malam hari. Terus, agar suasana lebih hidup, setting suasananya seakan berlangsung di sebuah warung kopi.

Maka jadilah di tahun 1973. Kasino, Nanu dan Rudy Badil membuat konsep acaranya. Mulai siaran mereka kebagian pukul 11-12 malam. Para pendengar bisa menikmati banyolannya setiap minggu dengan judul mata acara “Obrolan di Warung Kopi”

Nggak diduga, ternyata sambutan pendengar meriah, dan nama mereka cepat dikenal terutama dikalangan pendengar radio Prambors. Nggak lama, sekitar tahun 1974 Dono, (yang juga teman sekampus) diajak siaran. Waktu itu Dono berperan sebagai Slamet, orang Jawa pelanggan warung kopi tadi. Sedangkan Kasino dan Nanu memerankan sebagai anak pemilik warung. Kemudian, sekitar tahun 1976 Indro, mahasiswa Universitas Pancasila yang kampusnya kebetulan dekat dengan studio Prambors, diajak pula bergabung dengan memerankan peran Ubay anak angkat pemilik warung.

Kepopulerannya nggak hanya sebatas di radio saja. Warkop pertama kali ditanggap yaitu tahun 1976 oleh SMPN 9 untuk mengisi acara perpisahan. Setelah itu mereka mulai banyak manggung di sekolah atau di kampus-kampus. Sejak manggung itulah Rudy Badil perlahan-lahan mengundurkan diri. Alasannya sederhana, ia demam panggung. Tapi Badil tetap menjadi bagian dari Warkop sebagai salah satu konseptor di balik layar. Karena sebagai wartawan tentu dia lebih banyak berhadapan dengan masyarakat.

Tahun 1977 mereka tampil di TVRI dalam berbagai acara. Masa depan group mereka mulai tampak cerah. Apalagi nama Warkop Prambors sudah terasa mulai akrab di telinga masyarakat, khususnya kaum muda. Setelah mengambil gelar (1978) barulah Kasino menentukan masa depan Warkop sebagai group yang profesional. Menghibur hingga ke pelosok dan terkadang ke luar negeri.

Sejak tahun 1980 sampai meninggalnya tiga personel, Nanu (pada 1983), Kasino (pada 1997), dan Dono (pada 2001), sudah membuat 34 film. Dan, selama kurun waktu 30  tahun itu pula Warkop selalu hadir di bioskop dan layar kaca pada saat liburan hari raya. Mengajak kita untuk terus tertawa sebelum tertawa itu dilarang.

Sumber :

https://hai.grid.id/read/07587737/cerita-singkat-perjalanan-warkop-dki

Leave a Comment